Sensor Dalam Televisi Kita

By | Februari 6, 2015
Sensor berdasarkan kamus besar :

sensor /sénsor/ n 1 pengawasan dan investigasi surat-surat atau sesuatu yg akan disiarkan atau diterima (berita, majalah, buku, dsb); 2 yg menyensor;
Dewasa ini sensor khususnya pada dunia penayangan di televisi menjadi sangat ketat. Menurut pendapat saya ketatnya sensor filem ini mengakibatkan pro dan kontra. Pro disini saya terjemahkan sebagai efek positif dan negatif dari ketatnya sensor dalam tayangan televisi di Negeri kita. Dampak positif dari hadirnya sensor ditayangkan televisi dibutuhkan sanggup menyaring siaran-siaran yang sanggup dikatakan “tidak pantas” untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai atau penyiaran-nya pada jam-jam tertentu sanggup disaring (dipilih) sehingga tidak menghadirkan banyaknya sisi negatif yang tampil.

Hal ini sangat kita butuhkan mengingat kebanyakan dari pemirsa televisi ialah bawah umur yang masih perlu mendapat bimbingan dari orang bau tanah dikala menyaksikan televisi. Sebab, bimbingan orang bau tanah kepada anak yang sedang menonton televisi sanggup dilakukan jikalau orang bau tanah sedang menemani anaknya melihat televisi. Lalu, bagaimana jikalau anak tidak ditemani orangtua? Jawabannya adalah. Dengan hadirnya sensor sanggup menunjukkan saringan kepada pemirsa yang menonton televisi khususnya anak.

Dampak negatif dari adanya sensor di televisi secara ketat, yang kita lihat secara kasatmata ialah kenikmatan dalam melihat televisi semakin berkurang. “Kualitas” dari tayangan televisi secara lengkap tampaknya hilang. Selain itu, sensor yang berlebihan justru menunjukkan sedikit afek pada kita untuk melihat kepingan yang tersensor. Sebab, dengan sensor yang terkesan mencolok. Bukan malah menghilangkan kepingan yang dirasa tidak pantas. Tetapi malah menunjukkan tampilan yang mencolok (yang ganjil terhadap gambar) yang mengakibatkan kita malah akan mengarahkan mata kita untuk melihat pada kepingan tersebut.

Lalu, Apakah sensor di televisi itu berguna? kembali lagi kepada diri kita masing-masing. toh kita yang menonton. mau yang jarang sensor. Ya mending menyaksikan dunia kasatmata  didepan kita 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *