Manusia-Manusia Rigid,Akan Sulit Sendiri

By | Februari 14, 2020
Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, duduk di sebelah saya salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita ihwal karir dan perusahannya.
Gerakan keduanya (karir dan perusahaannya) begitu lincah. Tidak menyerupai kita, yang masih rigid, terperangkap contoh lama, seolah-olah semua layak dipagari, dibentuk sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwelling time tidak konsisten. Sama menyerupai karier sebagian kita, terkunci di tempat. Akhirnya hanya sanggup mengeluh.
Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 hingga final di sana, menjadi alumni Fullbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, kemudian berkarir di India hingga usia 45 tahun. Setelah itu menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.
Perusahaannya gres saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun alasannya yaitu orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin administrator dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia semoga ikut mempunyai saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola administrator dari Eropa (Italia).
Solved!
Itu yaitu citra dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderles world. Anehnya juga kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, sanggup bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.
Serangan Tenaga Kerja
Belum usang ini kita membaca informasi ihwal kegusaran seseorang yang tulisannya diforward kemana-mana melalui media sosial. Mulai dari berkurang agresifnya angka pertumbuhan, hingga serangan tenaga kerja dari China.
Berita itu di-forward kesana – kemari, sehingga seolah-olah tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya andal itu?
Bekerja atau berkarir di luar negri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja pada orang lain yang kurang beruntung. Dan kedua, Anda akan mendapat wisdom, bahwa hal serupa, komplain yang sama ternyata juga ada di luar negri.
Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi mengeluhkan ihwal negerinya. “Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, menciptakan persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis.” Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali.
Susah? Kerja Lebih Profesional!
Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan kawan kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. “Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dihentikan makan enak ketika mengemudi,” ujarnya.
Kepada putra saya ia mengajari. “Saat bekerja kita harus bekerja, harus profesional, gesit dan disiplin. Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja,” ujarnya.
Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual merasakan wine yang dianggap sakral. Di situ mereka berkeluh kesah ihwal perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Dan lagi-lagi mereka menyebutkan kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali dan Pulau Jawa.
Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, beliau mendengarkan baik-baik. “Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Tetapi, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia, dari pada Indonesia.” Saya pun terdiam.
Di Singapura, saya mengirim informasi ihwal komplain terhadap persoalan dollar AS dan ancaman kesulitan pada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarir di sana. Ia pun menjawab ringan, “Suruh orang-orang itu kerja di sini saja.”
Tak usang kemudian ia pun meneruskan. “Kalau sudah kerja di sini gres tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile.”
Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan ketika saya berobat ke negeri itu. “Mana sanggup konkow-konkow, main Facebook, nge-tweet di jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih sanggup bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak murka saja,” ujarnya.
Saat itu ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan. Sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki, dan Prancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata bekerja di negeri yang perekonomiannya cantik itu juga tidak mudah. Padahal di sana mereka lihat kerja yang enak itu ya di sini.
Bangsa Merdeka Jangan Cengeng
Saya makin terkekeh membaca informasi yang disebarluaskan para haters melalui grup-grup WA, bahwa pemerintah kini tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari China merangsek masuk ke negri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang menciptakan saya gusar yaitu kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negri.
Penyebar informasi kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat gampang dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 orang tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brazil. Bahkan juga canada dan Amerika.
Kaprikornus bagaimana ya? Kok gres dikepung 10.000 saja kita sudah rasis? Ini tentu mengerikan.
Lalu dari grup WA para alumnus sekolah, belakangan ini saja juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarir di manca negara. Delapan keluarga sahabat kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karir mereka tidak rigid.
Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tapi tak berbuat apa-apa. Bahkan beraninya hanya menyuarakan kebencian. Atau paling-paling cuma mengajak berantem dan menciptakan akun palsu bertebaran. Kita juga jangan gampang berprasangka.
Syukuri yang sudah didapat.   hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih.
Kalau Anda merasa Indonesia sudah “berbahaya” ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negri. Praktis kok. Di sana Anda akan mendapat wisdom, atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana kita gres sanggup merasakan kayanya Indonesia. Di sana kita gres tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.
oleh: Rhenald Kasali
(Sumber: Kompas.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *