Ki Buyut Tokoh Sesepuh Tegal

By | Januari 28, 2018
dawuhan wangandawa karang malang getaskerap Ki Buyut Tokoh Sesepuh Tegal
Cerita Rakyat


Pengantar Singkat

Ki Buyut yakni salah satu tokoh dari dongeng Tegal, Jawa Tengah. Kisah yang akan kita tuliskan dibawah merupakan sinopsis dari Materi Lomba Bercerita ditingkat Kecamatan. Kisah Ki Buyut sendiri merupakan kisah yang ditulis oleh TAKWID BUDIHARSO, diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal.
Sinopsis Ki Buyut
Ki Buyut tinggal di Semedo, dia merupakan salah seorang musafir (pengembara) yang mempunyai kiprah berbagi fatwa agama Islam, dia mempunyai seorang istri berjulukan Dayem. Dayem meruapakan kembang desa Semodo yang dipersunting oleh Ki Buyut. 
Setelah mendidik cowok desa menjadi santri-santri yang paham agama Islam. Ki Buyut lalu mengajak istrinya untuk berkelana berbagi fatwa agama islam. Istrinya baiklah untuk mengikuti Ki Buyut berbagi fatwa agama islam.
Setelah berpamitan dengan para warga desa semedo jadinya Ki Buyut dan istrinya pergi memulai berbagi fatwa agama islam, hingga di sebuah tempat tidak jauh dari semedo kaki istri Ki Buyut tertusuk kerikil karang yang melintang dijalan. Ki Buyut pun  berkata pada istrinya bahwa esok nanti tempat tersebut akan diberi nama KARANGMALANG sebagai kenangan perjalanan Ki Buyut dan istrinya.
Setelah melaksanakan perjalanan kembali Ki Buyut dan istrinya kembali melanjutkan perjalanan hingga mereka hingga kesebuah tempat yang mempunyai hamparan ladang yang banyak ditumbuhi rerumputan. Setelah melaksanakan sholat dzuhur Ki Buyut memutuskan untuk menetap di tempat tersebut.
Beliau dan istrinya memulai hidup kembali dengan bekerja keras. Karena sifatnya yang pandai ramah dan penyantun, Ki Buyut dengan gampang sanggup menyatu dengan penduduk sekitar. Ki Buyut mulai membuka lahan pertanian dengan mencoba memberi pengertian kepada para warga biar membuahkan hasil yang baik dengan menciptakan parit atau wangan.
Nama Ki Buyut menjadi kondang alasannya yakni kearifan dan fatwa agama barunya yang tidak membeda-bedakan derajat umat manusia, sehingga pengikutnya pun bertambah banyak.
Ki Buyut dikaruniai tiga orang anak yaitu Marwiyah, Pardi, dan Parjan. Mereka didik dengan baik dan penuh kasih alasannya yakni Ki Buyut berharap biar putranya kelak menjadi Sholih dan Solihah serta sanggup meneruskan usaha dan menjadi panutan masyarakat.

Tugas Ki Buyut sudah semakin gampang semenjak anak-anaknya beranjak dewasa. Hingga tiba sebuah utusan dari Kerajaan Mataram, Ki Panewu, namanya. Beliau menghadap Ki Buyut yang sedang melaksanakan penyuluhan kepada para petani. Ki Panewu mengabarkan kondisi bahwa Kerajaan Mataram akan menyerang VOC di Batavia dan meminta Ki Buyut untuk kembali ke Mataram.
Sebagai pengingat pertemuan antara Ki Buyut dan ki panewu yang menunjukkan perintah atau dawuh dari Mataram kepada Ki Buyut maka Ki Buyut memberi nama tempat pertemuan tersebut dengan nama Desa DAWUHAN
Perjuangan melawan VOC pun dimulai, dengan semangat yang membara para laskar Mataram bisa menciptakan VOC kalang kabut dan sanggup dipukul mundur. Namun dipertempurkan kedua VOC yang membendung sungai Ciliwung dan aben gudang-gudang pangan laskar Mataram di Kerawang dan Cirebon menciptakan laskar Mataram lumpuh dan kalah.
Ki Buyut pun pulang dengan cara mengamen, melantunkan syair-syair pesan usaha dan dakwah banyak orang terpukau dan tak jarang menangis mendengar lantunan syair Ki Buyut.
Hingga di sebuah siang di pinggir pantai Ki Buyut beristirahat di tepi pantai sambil menatap kehidupan para nelayan yang sederhana dan penuh kedamaian. 
Setelah hilang rasa penatnya, Ki Buyut pun membayar makan siangnya. Beliau kaget saat mengetahui harga makan siangnya sangat murah. Karena insiden tadi Ki Buyut menamakan tempat tersebut dengan Desa PADAHARJA. Kemudian Ki Buyut pun melanjutkan perjalanannya.
Menjelang maghrib Ki Buyut berhenti dan mencari air wudhu untuk sholat maghrib. Namun, ia dikagetkan oleh lompatan katak hijau yang masuk ke dalam jamban dari kerikil yang mempunyai air jernih. Sebagai penggenang perjalanan Ki Buyut menamai tempat tersebut dengan nama JAMBAN WATU.
Saat Ki Buyut berjalan melintasi malam, sambil melihat keindahan malam, dia dikagetkan dengan bunyi teriakan seorang wanita. Wanita tersebut sedang memegang anaknya yang sudah tidak bernyawa. Setelah menanyai  tersebut Ki Buyut bertanya perihal suami perempuan tersebut. Ternyata suami perempuan tersebut absurd judi hingga menciptakan keluarganya menderita dan mengalami kerugian yang sangat banyak. Serta sudah tidak peduli kepada keluarganya.
Tak usang warga desa pun berkumpul di rumah perempuan tersebut. Hingga lalu sesepuh desa tersebut yang berjulukan pak Wangsa mengenalkan kepada warganya. Bahwa orang yang menemui perempuan tersebut yakni Ki Buyut. Tokoh yang sangat kondang dan pandai bijaksana.  Setelah menunjukkan pemberian kepada perempuan tersebut Ki Buyut lalu memutuskan untuk pulang, melanjutkan perjalanan pulangnya.
Sesampai di umah Ki Buyut di sambut oleh ketiga anak dan istrinya, dengan penuh haru dan para tetangga pun  tiba menunjukkan selamat
Suatu malam Ki Buyut bertanya kepada istrinya, perihal anak-anaknya yang paling pantas untuk diutus menuruskan kiprah berbagi agama Islam di sebelah timur desa Ki Buyut. Akhirnya istri Ki Buyut memanggil bawah umur mereka. Setelah bawah umur Ki Buyut dipanggil. Ki Buyut mengutarakan maksud pemanggilan, bahwa ia akan menunjuk salah seorang anaknya yang akan mengajarkan agama Islam di sebelah timur desa, jadinya anak Ki Buyut yang berjulukan Pardi yang menerima doktrin untuk menjalankan tugas, sedang yang lainnya tetap tinggal di rumah.
Kehadiran Pardi di didaerah yang gres disambut baik oleh para warganya. Pada suatu hari Ki Buyut mengunjungi anaknya dan memberi nama tempat tersebut dengan nama SUMINGKIR, yang artinya menyingkir atau berpisah dengan keluarga (anak Ki Buyut sudah berpisah dengan keluarganya). Namun, untuk tetap menjalin persaudaraan, warga Sumingkir jika ada yang meninggal jenazahnya harus di makamkan di desa WANGANDAWA.
Pesan Ki Buyut ini berlaku hingga sekarang, sehingga di Dukuh Sumingkir hingga kini tidak ada makam, alasannya yakni warganya yang meninggal dimakamkan di desa Wangandawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *