Jadilah Mahasiswa Yang Bakir Bersyukur

By | Februari 14, 2020
Namanya mbah Pon……
Penjual gudeg dipojokan pasar Beringharjo Jogja.
Mempunyai 5 anak yang 2 kuliah di UGM, 2 lagi di ITB dan 1 di UI, mereka sekolah hingga jenjang kuliah tanpa beasiswa.
Siang itu mbah Pon duduk didepan para penerima seminar yang antusias ingin berguru kesuksesan dari mbah Pon.
Banyak pertanyaan dilemparkan, tapi tidak ada balasan dari mbah Pon yang dapat memuaskan peserta. Misalkan, dikala ada pertanyaan, kiat mendidik anak, jawabannya hanya, “nggih biasa mawon, nek pembangkang nggih dikandani”
Pertanyaan soal pembayaran kuliah anak-anaknya dijawab mbah Pon.. “Pas kedah bayar sekolah nggih dibayar”
Peserta seminar sudah tidak tahu lagi harus bertanya apa, alasannya yakni tidak ada balasan yang Istimewa dari mbah Pon.
Hingga seorang penerima bertanya, ” mbah Pon, napa njenengan mboten nate wonten masalah?”
Dengan wajah galau mbah Pon balik bertanya, ” problem niku napa tho? Masalah niku sing kados pundi?”
Peserta itu mencontohkan “Niku lho mbah, misalke pas badhe mbayar sekolah pas mboten wonten arthone”
Dengan tersenyum mbah Pon menjawab, ” oh..niku tho, nggih gampil mawon, dereng wonten artho nggih kula nyuwun Gusti Allah, lha ndilalah mbenjang e gudeg e wonten ingkang mborong”
Jawaban mbah Pon menampar para penerima seminar yang notabene yakni orang-orang arif terpelajar. Orang-orang yang paham ihwal ilmu energi dan bagaimana aturan energi bekerja, Energi selalu menarik energi yang bersifat sama
Mbah Pon tidak tahu apa itu masalah, sehingga tidak pernah menganggap hidupnya ada masalah.
Bagaimana mungkin problem tiba dalam kehidupannya..??
#Pandaibersyukur
#HanyaAllahtempatmeminta
#Ayoberbuatbaek
#Ojokeseldadiwongaapik
(Copas Dari FB Deo Amy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *