Empat Pilar Berguru Unesco

By | Juli 5, 2012
 Belajar ialah sebuah kebutuhan dan berguru merupakan suatu kewajiban bagi setiap warga n Empat Pilar Belajar UNESCO
Pembelajaran dialam terbuka

Belajar ialah sebuah kebutuhan dan berguru merupakan suatu kewajiban bagi setiap warga negara

Berkaitan dengan pendidikan. Terdapat empat pilar berguru berdasarkan PBB melalui UNESCO. Dalam buku Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (2001:13) paradigma pembelajaran berdasarkan UNESCO akan membuat proses belajar-mengajar yang efektif, yaitu : berguru mengetahui (learning to know), berguru bekerja (learning to do), berguru hidup bersama (learning to live together), dan berguru menjadi diri sendiri (learning to be).
Belajar mengetahui (learning to know)
Learning to know memiliki pengertian bahwa saat kita berguru kita akan menjadi tahu. Bahasa mudahnya dari mulai tidak tahu menjadi tahu. Selain itu juga menyiratkan makna bahwa pendidik harus bisa berperan sebagai informator, organisator, motivator, diretor, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator bagi siswanya, sehingga penerima didik perlu dimotivasi biar timbul kebutuhan terhadap informasi, keterampilan hidup, dan perilaku tertentu yang ingin dikuasainya.
Contoh : Setiap pagi berangkat sekolah, disekolah mendapatkan pelajaran-pelajaran yang gres yang membuat kita semakin mengetahui banyak hal.

Belajar berkarya (learning to do)
Learning to do maksudnya sehabis kita mengetahui hal-hal yang gres dari pembelajaran yang kita lakukan, kita bisa melaksanakan sesuatu karya atau bentuk pekerjaan konkret dari ilmu yang telah diserap. Pembelajaran ini menyiratkan bahwa siswa dilatih untuk sadar dan bisa melaksanakan suatu perbuatan atau tindakan produktif dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Terkait dengan hal tersebut maka proses belajar-mengajar perlu didesain secara aplikatif biar keterlibatan penerima didik, baik fisik, mental dan emosionalnya sanggup terakomodasi sehingga mencapai tujuan yang diharapkan.
Contoh : Ketika kita bisa mengetahui bahwa semut akan mendekat saat ada gula atau benda-benda yang manis. Kita bisa berkarya untuk membuat sesuatu biar semut tidak memasuki benda-benda yang manis tersebut. Pramuka juga mengajarkan Learning to do dalam pembelajarannya. Sehingga kegiatan pramuka akan lebih mengena dan pribadi kepada pengaplikasian kegiatannya.
Belajar hidup bersama (learning to live together
Learning to live together maksudnya dengan kita mengetahui dan kita sanggup melaksanakan sesuatu dari apa yang kita pelajari, selanjutnya kita sanggup melakukannya untuk diri kita sendiri dan juga untuk orang lain yang ada di sekitar kita. Pembelajaran ini bertalian erat dengan pemberantasan perilaku egoisme yang mengarah pada chauvinisme pada penerima didik sehingga melunturkan rasa kebersamaan dan harga-menghargai. Memahami, menghormati dan bekerja dengan orang lain, mengakui ketergantungan, hak dan tanggungjawab timbal balik yang melibatkan partisipasi aktif warga, tujuan bersama menuju kerekatan sosial, perdamaian dan semangat kerjasama demi kebaikan bersama. Sebab, cukup umur ini sudah mulai banyak tertanam sikap-sikap egoisme pada diri tiap individu-individu.
Contoh : Sebagai seorang yang berpendidikan tentuh kita akan menghargai karya orang lain atau saat kita bisa melaksanakan banyak hal kita tidak sungkan-sungkan untuk mengembangkan dengan orang lain.
Belajar berkembang utuh (learning to be)
Learning to be ini maksudnya ialah sehabis kita mengetahui, kita sanggup melakukan, kita sanggup membaginya dengan orang lain, kita sanggup membuat sesuatu yang lebih baik. Baik itu bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Pengarjaran ini menitik beratkan kepada penerima didik untuk siap terjun kemasyarakat. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran ini ialah perilaku percaya diri. Perlu dihayati oleh praktisi pendidikan untuk melatih siswa biar bisa mempunyai rasa percaya diri (self confidence) yang tinggi. Kepercayaan merupakan modal utama bagi siswa untuk hidup dalam masyarakat. Pengembangan dan pemenuhan insan seutuhnya yang terus “berevolusi”, mulai dengan pemahaman diri sendiri, kemudian memahami dan berafiliasi dengan orang lain. Menguak kekayaan tak ternilai dalam diri.
Empat pilar berguru berdasarkan unesco ini juga akan membuat pembelajaran yang kita lakukan (sebagai seorang pendidik) akan lebih bermakna lagi. Sedangkan, Pada pilar pendidikan di Negara Indonesia. Anda akan menemukam pilar yang kelima (tidak dimasukkan oleh UNESCO) yaitu pilar perihal Ketuhanan

Belajar untuk mempercayai dan meyakini Tuhan yang Maha Esa (Learning to belive and convince the almighty God)
Indonesia sebagai negara yang melandaskan pancasila sebagai pedoman hidup bangsanya sangat mempercayai dan meyakini Tuhan yang Maha Esa. Sebab, Indonesia merupakan negara ketuhanan yang menjunjung tinggi nilai keagamaan oleh alasannya ialah itu pilar ini dimasukan kedalam pilar berguru di Indonesia. Penerapan pilar ini dibuktikan dengan adanya mata pelajaran agama dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Yang mengajarkan kebijaksanaan pekerti dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Setahu saya cuma pendidikan agama di Indonesia yang memperlihatkan pengajaran Agama sesuai yang dianut Siswanya, sekalipun beliau cuma satu anak yang berbeda keyakinannya (biasanya nanti diikutkan ke daerah yang pelajaran agamanya sama)

Baca juga artikel perihal Hakikat pembelajaran

Sekian artikel dari saya semoga bermanfaat….
===Referensi===

dari google dengan kata kunci : Empat Pilar Pembelajaran UNESCO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *