Berhentilah Meludahi Muka Sendiri

By | Februari 14, 2020
Saya menemukan BC di WAG macem ini, kira-kira adakah jamaah facebukiyah yang tahu surat ini untuk siapa? Dan satu lagi: apakah benar surat ini dari TANAH MELAYU? #seriusbertanya
Saya bersama-sama sudah sedikit tahu jawabannya, tapi ingin meyakinkan diri saja. Catatan sejarah memang menyakitkan kadang jika diungkapkan, tapi sekaligus sebagai cermin bagi kita supaya tidak PONGAH dan AVIDYA–DUNGU seraya membanggakan diri dan kelompok seolah #AKUNKRI yang lain bukan! #AKUPANCASILA yang lain ANTI! #NKRIHARGAMATI klo yg lain mengkritisinya kemudian distempel #ANTINKRI. Dosen Pancasila selama 24 tahun pun tega Anda katakan #ANTIPANCASILA hanya karena berbeda pendapat dengah penguasa. Biyuuuuuuh…inikah cara ANDA BERDEMOKRASI PANCASILA itu?
Benar memang seharusnya perhatikan peribahasa ini:
“JANGAN MENGAJARI ITIK BERENANG”
————————————————————–
“Surat dari Melayu”
Menggelikan, sekaligus terdengar menjijikkan, ketika  mendengar Tuan ingin berkhutbah perihal kebangsaan, NKRI, atau perihal Pancasila, di kampung kami, Riau.
Tuan mungkin sedang mengidap amnesia sejarah. Baiklah, saya sampaikan lagi, bahwa saat negeri yang berjulukan Indonesia ini merdeka tahun 1945,  kami masih negara berdaulat, dan kemudian kami dengan kesadaran tetapkan untuk bergabung, menjadi Indonesia.
Kami masuk ke Indonesia, bukan dengan tangan kosong ibarat Tuan. Kami menyumbang 10 provinsi, 2 kawasan jajahan, 39 butir berlian, uang 13 juta gulden, menyumbang minyak, dan menunjukkan bahasa. Bahkan hingga hari ini, tanah kami, mulai dari blok kangguru, Dumai, dan Pakning, masih menyusukan negeri ini dengan 900 ribu barrel setiap hari. Kami berikan juga hasil hutan, kelapa sawit, hasil laut, dan aneka macam komoditas lain.
Sejak eksploitasi stanvac hingga minyak bumi kami mengisi lambung kapal Gage Lund tahun 1955, kami sudah menyumbang ribuan trilyun kepada negeri ini.  Kami juga telah menunjukkan bahasa, semoga Tuan petah berkata kata.
Izinkan kami bertanya: Apa yang sudah negeri Tuan sumbangkan kepada Indonesia, sehingga Tuan merasa berhak untuk menceramahi kami soal kebangsaan? Minyak kampung kami juga ikut dalam tol, dalam jalan yang tuan injak di kampung Tuan. Minyak kami sudah membangun gedung gedung di kampung Tuan, bahkan republik ini. Itu pertolongan kami, mana sumbanganmu?
Tuan hanya menyayangi negeri ini dengan tagar #nkrihargamati, atau #sayapancasilasayaindonesia, kemudian Tuan merasa sudah demikian Indonesia?
Di kampung kami, orang kampung Tuan sanggup menjadi apa saja, jadi gubernur, bupati, walikota, pengusaha, pejabat, anggota legislatif, bahkan menjadi bajingan pun boleh. Bisakah hal yang sama terjadi di kampung Tuan?
Di mana adat Tuan? Tuan menikmati kekayaan kami, tapi Tuan tanpa malu, tanpa moral mempersekusi ulama kami dan mempertanyakan keindonesiaannya. Apakah Tuan waras?
Berhentilah melaksanakan omong kosong, belajarlah untuk mempunyai rasa malu. Antara kami dan Tuan tidak layak untuk disandingkan dalam keindonesiaan. Berhentilah meludahi muka sendiri..
@syaukani al karim
@suteki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *